Minggu, 02 Oktober 2016

Wahai Calon Imamku...Prajurit Cinta Dunia dan Akhiratku

Wahai calon imamku,
Detik ketika aku menulis, Aku yakin kau hadir di suatu belahan bumi ini.
Mungkin kita berpisah jarak dan waktu, namun namamu telah tertulis di Lauhul MahfudzNya.
Namamu tertulis, jauh sebelum Aku lahir ke dunia ini.

Ketika nanti Allah mempertemukan Kau dan Aku dalam ikatan suciNya,
Aku sangat yakin bahwa memanglah sudah saatnya.
Layaknya anak muda, ingin rasanya Aku memperkenalkan dirimu dengan teman-temanku.
Tapi Aku yang Aku ingin, memperkenalkanmu sebagai Imam dunia akhiratku, didepan mereka.
Karena bagiku, ikatan yang diakui oleh Allah adalah ikatan suci dalam sebuah pernikahan.
Untuk saat ini, Allah masih menyimpanmu disuatu tempat sana. Dan Aku percaya, Kau aman disana.

Namun, izinkan Aku menyampaikan sesuatu.
Aku tidak menuntutmu untuk menjadi seorang yang sempurna saat menjemputku.
Tapi, sepanjang perjalanan kita berdua merangkai histori di dunia,
Jadikanlah Aku penyempurna hidupmu, dan dirimu pun menjadi penyempurna hidupku.
Aku inginkan Kau yang selalu memberikan kasih sayang seutuhnya untukku dan keluargaku.
Sama halnya dengan diriku, yang akan memberikan rasa sayang yang tulus untukmu serta keluargamu.
Aku percaya,

Kau akan menjadi orang yang dengan sigap memberikan pundakmu, untukku saat Aku sedih
Kau akan menjadi pelipur lara, serta penguat dari segala ujian yang akan kita lalui nanti.
Kau akan menjadi pendamping ekstra sabar, yang pelan-pelan membenahi kelakuan istrimu yang mungkin kurang wajar atau bahkan mengecewakan.
Kau adalah pelengkap keluargaku, menantu yang dibanggakan oleh kedua orangtuaku.
Kau akan pula, mempercayai serta mengimani apa yang menjadi impianku untuk bisa kita raih bersama. Mencapai tujuan, serta lengkap untuk menghadapi hambatannya.
Kau akan jadi pemimpin yang selalu bisa mengarahkan dengan sabar kemana Istri dan Anak-Anakmu akan melangkah.
Kau adalah prajurit cintaku, yang telah memenangkan hatiku untuk bisa mencapai ridho serta hidup berkah sebagai pasangan sedunia dan sesurga.

Akupun sadar, pasangan itu haruslah melengkapi.
Jika Kau lakukan semua itu untukku, Insya Allah akupun akan melakukan hal yang sama untukmu.


Teruntuk Calon Imamku,
Prajurit Cintaku,

Selasa, 16 Agustus 2016

Warna Lain Di HUT RI 17 Agutus

Apa kabar para pejuang Allah, pemimpi gila dan pemuda/i terbaik pilihan.
MERDEKA!

Pagi ini, Aku kembali meneteskan air mata. Seperti flashback 71 tahun silam (meski pastinya belum lahir pada saat itu) kemerdekaan RI.
Apa yang diraih pada detik ini, adalah apa yang diimpikan para pejuang pada masa itu.
Meski kuantitas usia 71 tahun sudah diraihnya, namun betapa Indonesia masih harus banyak berbenah dibalik bilangan itu.

Masih banyak potensi anak bangsa yang belum digali. Masih banyak keistimewaan pemuda yang belum diperlihatkan sebagai jatidiri bangsa.

Maka di hari jadi Indonesia yang ke 71 tahun, marilah kita sumbangkan lebih banyak lagi ide, aksi dan pencapaian prestasi yang nyata. Untuk mengokohkan kembali bangsa yang mulai terpecah belah, membentuk pemuda/i untuk bersiap menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Dengan menorehkan impian demi impian saat ini, dan diazzamkan agar segala impian bisa terwujud atas ridhoNya sebagai sumbangsih nyata diri ini untuk Indonesia.

Indonesia bisa kembali bangkit untuk menjadi negara yang benar-benar sejahtera,
Indonesia bisa kembali menjadi bangsa yang mengutamakan generasi muda sebagai penerus bangsa
Indonesia bisa kembali yang berTuhan dan berperikemanusiaan.
Indonesia bisa menjadi Negara Pemimpin di Dunia.
Mari bersama-sama, kita warnai HUT RI ini, minimal dengan sumbangsih Impian-Impian terbaik untuk tanah air tercinta, Republik Indonesia.


MERDEKA!!!

Kamis, 28 Juli 2016

MANAJEMEN EGO

Beberapa hari ini, aku sedang dihadapkan dengan berbagai masalah.
Masalahnya bukan langsung menjadi masalahku, namun masalah dari beberapa orang sahabatku dan  juga tim dalam organisasi yang sedang aku dan teman-teman jalani.

Bagiku, masalah mereka adalah masalahku.
Bagaikan satu tubuh, jika jari-jemari yang sakit teriris pisau. Maka kepala ikut sakit, badan ikut nyeri dan mulut ikut teriak.

Akupun punya kewajiban untuk memikirkan beberapa solusi tambahan, untuk mereka jalani.
Itu adalah bentuk kontribusi nyataku, bahwa sangatlah benar aku menyayangi mereka.

Mulai dari putus cinta, masalah keluarga, karir, studi dan banyak lagi. Tepat seminggu ini, setiap harinya aku berganti-ganti berinteraksi dengan mereka. Ada yang langsung ketemu, via telpon, WA, juga ada yang tatap-tatapan sambil nyiapin tisue sebelum cerita.

Ya, bagaikan satu tubuh.
Ketika masalah itu hadir, aku pun menghadirkan diriku dan juga hatiku untuk meresapi untaian cerita yang mereka sumbangkan kepadaku.
dan saatnya untuk me-manage ego.

Manajemen Ego adalah level berikutnya dalam kehidupanku yang harus aku kuasai.
Saat mengetahui beberapa masalah sahabat-sahabat terdekat, berbagai emosi, tingkah laku, mood dan kawan-kawannya kian hadir. Kalau aku masih mengutamakan Egoku, untuk apa aku lakukan semua ini. Tapi inilah seni berikutnya dalam menyambung hubungan kekerabatan yang InsyaAllah penuh ridho dari Allah.

Aku dengan konsep hidup Manejemen Ego itu berusaha semaksimal mungkin melihat masalah dari segala sisi. Semuanya!
Berarti tahap pertama Manajemen Ego adalah, masuk dan resap masalahnya
Gak jarang saat dilontarkan masalah demi masalah dari para sahabat kepadaku, disitu aku harus berpikir keras bagaimana solusiku bisa bermanfaat.
Gak jarang pula, aku menjadikan diriku menjadi sang pemilik masalah.
Itu tersulit.
Karena ketika aku hadir dengan merasakan sebagai pemilik masalah, aku benar-benar buta akan masukan atau saran-saran yangs sebenarnya menjadi saran pembangun.
Aku ikut terlarut dalam masalah yang sebenarnya bukan masalahku. Bagi orang yang sedang memiliki masalah, awut-awutan di otak dan hatinya, juga kayanya hidup hambar, rasanya pengen mati aja. Itu tetiba hadir tanpa pembatas nyata.
Masukan orang lain adalah hinaan, masukan orang lain adalah racun, masukan orang lain akan jadi nihil jika dilakuin. Pokonya kalo lagi ada masalah, kita serasa menjadi orang yang pealing susah se dunia. Yang lain gak ada yang paham. Cuma kita yang sedih, cuma kita yang bisa rasain, semuanya gak akan ngerti perasaan dan kondisi yang kita hadapin. Ah pokonya yang ngasih solusi adalah orang tersotoy sedunia.
hahahaha. begitu bukan?

Semoga bukan.


Ketika sudah terlarut dalam masalah, tahap selanjutnya adalah kembali ke titik jernih. Ini sulit! Asli.

Karena apa, karena kita harus segera ada diposisi pemikiran dan perasaan yang objektif. Setelah pertama tadi kita sudah tau masalahnya, ditahap selanjutnya kita harus memaksakan diri ini untuk keluar dari masalah itu. Sakit, perih, semua rasa ada. Tapi kita harus memaksakan untuk kembali ke titik jernih.
Kalo tadi kita anggap masukan orang itu adalah suatu ke-sotoy-an. Ditahap ini, kita harus lebih waras satu tingkat, bahwa orang lain itu memberi masukan dari  helikopter dengan ketinggian berbeda, jadi sebenernya mereka melihat dari sudut padang yang lebih luas untuk kebaikan kita.
Kita harus akui, kesalahan kita ini. Harus mengakui ada sebab ada akibat. Kalaupun masalah ini benar sebagai ujian, pasti pilihannya mau dilalui atau stuck diposisi itu aja.
Kita maunya naik kelas dong. Masa masih SD aja, kapan SMP nya.
Disini, kita harus objektif dalam mem-breakdown kesalahan atau penyebab masalah ini sampai kejadian. Ciptakan kondisi jernih itu.

Tahap terakhir. Level memaafkan.
If you are involved in something that goes wrong, NEVER BLAME OTHERS. Blame no one, just your self. Remember this!.

Jangan pernah menyalahkan orang lain. Masalah hadir selain memang ada penyebabnya, mereka juga hadir karena memang sudah saatnya mereka hadir. 
Banyak alasan kenapa masalah itu hadir. Bisa jadi karena kelalaian, bisa jadi juga karena sudah harus naik kelas. 
So, apapun masalahnya, sudah sepantasnya kita hadapi itu tanpa harus menyalah-nyalahkan orang lain.

Sering sekali aku mengibaratkan orang yang punya masalah itu sesungguhnya insan mulia yang dirindukan Allah. Allah gak mau jauh-jauh, jadi dikasih masalah. 

Orang-orang hebat diluar sana (Insyaallah kita juga) punya porsi masalah lebih berat dibanding orang-orang pada umumnya. Kenapa gitu, karena biar hebatnya bener-bener keluar. Insyaallah setelah fase beratnya dilalui, di sahkan deh sama Allah kalo beneran kita emang orang hebat yang diRidhoiNya.

Untuk jadi hebat, sangat penting untuk bisa me-manage ego. Karena solusi tiap masalah itu sebenernya bukan diluar, tapi disini didalam hati kita. Sejauh mana kita bisa manage ego kita, sejauh itu pula solusi demi solusi bermunculan.

Sekian, cuap-cuap basah di sore hari ini.
Semoga bermanfaat :D

Senin, 11 April 2016

My (Process) Wedding Imagination

Hai pembaca setia.
dengan tulisan baruku, semoga ini bisa menjadi doaku dan doa kita bersama ya.
Semoga Allah memudahkan Aku, calon suamiku, dan siapapun untuk menikah.
Kalaupun tidak mudah melalui setiap jalannya, semoga Allah jadikan setiap langkahnya itu sudah ada solusinya. Aaaamiin


Aku senang sekali berimajinasi.
Alhamdulillahnya imajinasiku, hampir sebagian besar Allah jadikan nyata karena izinNya.
Dan kini, Aku sedang mengimajinasikan kamuu dan proses pernikahan kita nanti.
ihiiiiy, prikitiiiiw.

Setelah aku mengirimkan surat cinta untukmu kekasih hati, semoga kamu sudah baca ya.
aaamiin.
Nah selanjutnya, Aku sudah siap untuk menanti  dan menjemputmu hadir di dalam kehidupanku.

Yang aku yakin, alhamdulillah Bapakku getting better untuk kesehatannya. Itu yang membuat aku lega. Bapak sudah mulai bisa nyenyak tidur, seperti impian-impian berikutnya.
Nah, Aku semakin yakin Bapak udah siap untuk menyambut kamu hadir di kediamannya. Untuk meminta restu dan ridho, menikahi anak bungsunya.

Duhh, aku deg-deg an deh nulis ini.
Tapi, saat ini dibilang udah fix ada calon nya, aku bisa bilang iya, bisa bilang juga belum. Dua-duanya aku punya jawaban sih.

Aku bisa bilang Iya,kamu ada.
Yaiyalah, kamu kan udah tertulis di lauhul mahfudz nya Allah. Jadi aku yakin kamu sudah ada, bahkan kamu sekarang ni sudah hadir di lingkaran kehidupanku.
yang kedua, aku memang lagi dekat dengan beberapa pria, dan juga sedang menyukai seorang pria. Aku yakin salah satunya itu kamu.
dan semua pria yang belum menikah kan berpotensi untuk jadi suami aku kan. tinggal aku bilang saja orang-orang yang aku suka yang mana, ya dia calonku. hehehe

lah kamu kaya orang gak waras deh,
lah emang iya. Aku kan pemimpi gila.

lagian begini, yang sudah pacaran 10 tahun, siapa yang menjamin mereka akan berjodoh dan mengakiri hubungan mereka dengan menikah? gak ada yang bisa jamin kan?
kalau gitu ya sama aja.

yang penting YAKIN!


Aku bisa bilang belum juga, ya bisa. Kan belum nyata dia beneran Ijab Qobul, jabat tangan Bapaku. Sudahlah, tenang....


Dan begini rencanaku,
Insya Allah aku siap menikah, dengan siapapun yang memang Allah takdirkan untukku,
Segalanya akan jadi baik, jika datang dan tujuannya untuk Allah.

Aku sedang memvisualisasikan sebuah bilang bulan, proses pernikahanku.

6 Bulan,
Ya 6 Bulan

sesuai dengan masa pengobatan Bapak selama 6 bulan
sesuai dengan masa kuliah tambahanku juga selama 6 bulan
daaaaaan, tabungan yang aku hitung-hitung secara manusia juga akan sampai pada bilangan (tabungan) yang cukup diwaktu 6 bulan ke depan. Ya dong, aku udah siapin tabungan buat pernikah an kita, masa gak modal. hehe


Duhhh! deg-deg an lagi.

Berikut ini adalah masa 6 bulan yang akan kita habiskan, aku dan kamu (calon) pangeranku.

April 2016 : Allah mempertemukan kita (lagi)
Mei 2016 : Masing-masing dari kita setuju untuk proses ta'aruf
Juni 2016 : Launching bukuku, kamu dan aku semakin mantap. Menyambut bulan suci juga dan berdoa dengan harapan terbaik, bahwa Ramadhan ini akan ada setahap lebih serius lagi. Dan di bulan suci ini, Juni 2016, Kamu Khitbah aku >,<
Juli-Agustus-September : Persiapan Walimahan,
Oktober  2016 : NIKAH!


Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).



Denganmu nantinya, Aku ingin juga tambah dekat denganNya.
yuk kita pantaskan, :)

Rabu, 30 Maret 2016

Bapak, sebentar lagi kita kedatangan tamu

Bapak, yang sehat ya. Sebentar lagi kita kedatangan tamu.

Ini doaku, setiap saat Bapak, ingin selalu membuat Bapak bahagia.
Kita, nggak pernah satu pemikiran, nggak pernah satu jalan.
Bapak orangnya disiplin, dan aku kebanyakan santai,
Aku suka bermimpi, Bapak enggak.
Tapi, kita sama dalam satu hal, sama-sama ingin saling membahagiakan.

Bapak, usiamu bikin Aku selalu dag-dig-dug.
Sungguh, Aku takut kehilanganmu.
Aku takut, kandas waktuku untuk membahagiakanmu.
Dibalik wajahku yang selalu meledekmu dengan nada candaan, ada air mata Pak, ada air mata yang bercampur doa, harapan, kesedihan, kebahagiaan, rasa syukur karena memilikimu dan takut sekali berpisah.

Bapak, Aku ingin buat Bapak bahagia.
Untuk itu, kita harus siap-siap, karena sebentar lagi ada tamu.
Ia adalah calon menantu Bapak yang terakhir.

Entah Ia masih ada dimana, siapa namanya, berapa umurnya, anak keberapa.
Tapi, dada ini selalu sesak Pak, Aku ingin menyempurnakan kebahagiaanmu Pak.
Insya Allah Ia akan datang, iya beneran Pak, serius.
Insya Allah...

Doakan ya Pak, doakan anak bontot cengeng nyebelinmu ini.

Ia akan menjabat tanganmu Pak,
Mengucap ijab qobul dengan tegas, menyatakan keseriusannya atas pemindahan tanggung jawab  darimu untuk hidupku dan hidup kami kedepannya.

Pak, jangan bersedih,
Bapak selalu di hati aku. Aku nggak pernah sekalipun bisa berpisah dari Bapak,
Tapi Bapak harus semangat lagi, ya. harus semangat.

Insya Allah, Ia sudah Allah persiapkan untuk jadi bagian dari keluarga kita Pak.
Anak mantu Bapak yang terakhir,
yang sangat mencintaiku, keluarganya dan keluarga kita.
Pastinya, juga mencintai pencipta kita yang Maha Sempurna.


Bapak yang sehat ya, kan sebentar lagi kita akan kedatangan tamu :")




Rabu, 16 Maret 2016

Surat Cinta Untuk (Calon) Suamiku




Di usia yang kata orang usia usia mengkhawatirkan, 24 tahun. Ya 24 tahun, Kalau mau pilih khawatir, bisa saja Aku khawatir. Tapi, kalau itu yang Aku pilih, seperti hamba yang durhaka rasanya. Di tengah impian demi impian dijawabNya, aku bisa jadi layaknya hamba yang kurang syukurnya. 
Aku harus kembali siap menutup telinga sambil menyunggingkan senyuman, lantaran kanan-kiri mulai rese memprolamirkan pertanyaan-pertanyaan 'Indah' bagi siapa saja yang mendengarnya.

"Kapan nikah?"
"Pasangangannya Mana?"
"Dia udah punya 2 anak, masa kamu calon aja belum ada"

dan apalah apalah

Terganggu sih enggak, cuma annoying aja. hehe

Jujur binti jujur, Aku sangat berkeinginan menikah muda. Bahkan keinginan itu sudah ada sejak Aku genap 22 tahun. Namun, Allah kan produsernya, kalau kata Dia aku belum pantas, ya belum pantas. Mungkin masih banyak yang aku harus ukir dan raih, sambil Allah terus menilai, sudah layak kah aku menjadi seorang Istri dan Ibu nantinya.

Aku bukan saja menunggu dirimu, wahai pangeran ganteng di ujung sana. 
Tapi aku berikhtiar juga untuk pantas menjadi pasangan dari laki-laki tampan bertanggung jawab seperti dirimu. 

Aku juga sedang mempersiapkan untuk menjadi menantu idaman Ayah dan Ibu mertuaku nanti. Iya, Ayah dan Ibumu, Aku juga sedang mempersiapkan obrolan hangat apa yang bisa dilakukan antara aku dengan kakak/adik iparku (kalau ada) nantinya. 

Aku sedang kembali mengulang hafalan-hafalan surat pendek di juz 30 untuk nantinya sering kita ulang-ulang bersama, iya persiapan kamu jadi imamku nanti. Tiap sholat! tapi ada waktu waktu tertentu lain yang kamu harus ke masjid ya.

Aku sedang berimajinasi, kamu selalu suka dengan setiap masakanku. Aku ingin membekalimu masakanku di setiap aktivitasmu ya, kalau boleh. 

Bahkan Aku juga sudah mempersiapkan beberapa nama untuk anak-anak lucu sholeh sholehah kita nanti.

Kamu itu sangat spesial, Aku yakin itu. Mangkanya proses nya butuh kesabaran.

Siapa bilang Aku berdiam diri, walaupun tidak menyebut nama (kan karena gak tau namanya) aku selalu mendoakanmu dalam tiap sholatku.

Saat ini, Aku sangat yakin Allah meminta kita untuk sedikiiiiiit lebih sabar. 
Karena kamu sedang dipersiapkan Allah untukku, begitupun juga Aku.
Aku ingin kamu bangga, ketika nantinya Aku adalah seorang istri yang banyak prestasi namun tidak lupa jati diri. Aku ingat kodratku, sebagai seorang istri.

Iya Aku paham, setiap pria merindukan wanita yang terus ada dirumah dikala dibutuhkan, dikala suaminya rindu. 
Jadi untuk itu Aku sedang mengumpulkan prestasi sana-sini sebagai bekal untuk aku berprestasi padamu atas nama seorang istri. Sangat bukan untuk menyaingimu, tapi dibalik Pria hebat sepertimu, aku ingin juga menjadi wanita hebat yang selalu setia berada di belakangmu (calon) suamiku.

kaya Kang Emil dan Cintanya...

Sungguh, Aku nggak cengeng saat menantimu seperti yang dulu-dulu. 
Sebaliknya, Aku begitu bersemangat untuk merancang rumah tangga kita ke depan. Susah senang, bersama. 


Hai kamu yang disana,
sempat Aku sangat dag dig dug akan kedatanganmu, namun yang Aku tahu Allah dengan segudang cinta langit dan bumiNya, akan mempertemukan kita di waktu yang paling tepat.
sing sabar pangeranku :)

Senin, 29 Februari 2016

MENGECEWAKAN atau DIKECEWAKAN ?

Selama hidup, ada berapa fase yang kita lalui. Tak terhitung bukan?
terkadang kita melewati fase sedih, fase bahagia, fase beruntung dan pernah pula melalui fase kecewa.
Percayakah, setiap fase itu adalah buah dari perbuatan kita sendiri.
Jika kita pernah sampai pada fase dikecewakan, mungkin kita pernah melewati fase mengecewakan. Ada beberapa atau bahkan, banyak orang yang kecewa karena perbuatan kita.
Mungkin sebagian lain, pernah juga menangisi kata-kata menyakitkan yang keluar dari kita, atau bahkan kepercayaan yang sudah mereka berikan sirna, lantaran kita yang melepas kepercayaan itu pergi entah kemana.

Sesal?
Ya, seharusnya bisa berbuah penyesalan. Namun, penyesalan seperti apa?
Penyesalan yang berbuah kepada suatu hikmah dan pembelajaran.
Setiap kita yakin setiap fase kehidupan itu adalah fase belajar, kita bisa memaknainya pula sebagai pendewasaan diri untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Untuk apa menjadi pendendam, jika kita bisa memilih untuk memaafkan.
Untuk apa menjadi sedih, jika kita bisa memilih bahagia dan mengikhlaskan.
Untuk apa menjadi tak tenang, jika kita bisa memilih mengambil hikmah dari setiap proses.

Mengecewakan orang lain, sudah sejatinya kita berazzam untuk mengurangi intensitas itu.
Kalaupun kita masih dikecewakan oleh orang lain, maka bisa jadi itu teguran, bisa jadi itu ujian.
Bisa jadi kalau kita Ikhlas menjalaninya, itu jadi ladang amal untuk kita semua.

Jalanilah selama itu membuahkan pelajaran, yang nantinya berujung pada pendewasaan.
Allah, selalu seperti apa yang kita prasangkakan.
Allah, selalu mendengarkan setiap untaian do'a, dan memilihkan waktu yang tepat untuk diwujudkan.
Hidup ini, tak akan pernah menjadi mulus.
Yang pasti, jadikan hidup kita selalu berfokus pada ampunan dan ridho dariNya.

Be a Great Muslim guys!